Selasa, 04 Februari 2014

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA DASAR ( Pembuatan larutan, titrasi, pengenceran dan penentuan asam basa )

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM KIMIA DASAR




      Disusun Oleh :
                                    Nama               : Tryana Aryadi
                                    NIM                : 12/15067/BP_SPKS
                                    Kelas               : SPKS H
                                    Jurusan            : Budidaya Pertanian
                                    Fakultas           : Pertanian
                                    Kelompok       : V ( Lima )
Acara               : II ( Pembuatan larutan, titrasi, pengenceran
                           dan penentuan asam basa )
                                    Co. Ass           : Julia Handayani


INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2012
I.         Acara                         : II ( Pembuatan larutan, Titrasi, Pengenceran, dan
                                      Penentuan asam basa )
II.      Tanggal Praktikum  : 23 Oktober 2012
III.   Tujuan                       :
a. Mengetahui bagaimana cara pembuatan larutan Na2SO4.
b. Mengetahui bagaimana mengencerkan suatu   larutan.
c. Mengetahui konsentrasi suatu larutan.
d. Mengetahui cara mentitrasi suatu larutan dan  menentukan asam  basanya.
IV. Dasar Teori
            Larutan adalah campuran serba sama (homogen) antara 2 atau lebih zat yang komposisinya dapat diatur dan sifat masing- masing penyusunnya masih tampak. Larutan dibuat dengan mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, Atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan.
Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volume memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat trejadi tepat pada titik ekuivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun istilah analisa volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat mengukur volum gas.
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambah pelarut agar diperoleh volume akhir yang besar (James E.Brady, 1999 : 102). Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang- kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (BradAsam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4  dengan nama sistematis asam etanadioat.
Penentuan Asam dan Basa. Indikator untuk titrasi asam basa (analisis volumetri) memegang peranan yang sangat penting karena indikator akan menunjukkan  dimana titik akhir dari  titrasi tersebut (titik ekuivalen). Pemilihan indikator yang tepat akan sangat membantu dalam keberhasilan titrasi yang akan dilakukan.








V.   Alat dan Bahan
 Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan sodium hidroxida, pengencera larutan sodium hidroxida, titrasi, dan penentuan asam basa adalah sebagai berikut:
A. Alat
1.    Gelas Piala
     - ukuran 250 ml                            1 buah
     - ukuran 50 ml                              1 buah
2.    Gelas Arloji                                  1 buah
3.    Kertas Lakmus                             2 lembar
4.    Spatula                                         1 buah
5.    Labu ukur 100 ml                        1 buah                        
6.    Erlenmeyer                                  
     - ukuran 250 ml                            2 buah
     - ukuran 200 ml                            1 buah
7.    Corong                                         1 buah
8.    Pipet ukur 50 ml                           1 buah
9.    Timbangan analitis                       1 buah
10. Tabung Reaksi                            1 buah
11. Penjepit                                       1 buah
B. Bahan
1.    Na2so4                                         secukupnya
2.    Aquades   100 ml                         secukupnya
3.    NaOH 100 ml                              secukupnya
4.    Hcl 10 ml                                     secukupnya
5.    Indikator                                     secukupnya



VI. Cara Kerja
A.    Pembuatan Sodium –Hydroxida
1.    Penimbangan NaOH, timbang gelas arloji yang kering dan bersih catat beratnya.
2.    Masukan Sodium-Hydroxida seperlunya, catat beratnya sampai 4 angka dibelakang koma.
3.    Pembuatan larutan, pindahkan Sodium-Hydroxida kedalam gelas beker 250 ml, dengan bantuan spatula atau gelas pengaduk.
4.    Bilaslah gelas arloji dengan aquades.
5.    Masukan kegelas beker dan tambahkan aquades, sesuai dengan perhitungan. Gunakan alat spatula untuk membantu alam melarutkan Sodium-Hydroxida didalam gelas beker.
B.     Pengenceran Larutan Sodium-Hydroxida
1.    Tentukan berapa kebutuhan pelarut yang diperlukan dari perhitungan yang ada.
2.    Tambahkan pelan-pelan aquades sesuai dengan keperluan.
3.    Jika bisa gunakan labu ukur agar hasil lebih tepat.
C.     Titrasi
1.    Cucilah buret dengan larutan pencuci.
2.    Bilaslah dengan larutan pencuci yang dipakai.
3.    Isilah buret dengan aquades sampai dengan skala nol.
4.    Lakukan latihan titrasi.
D.    Penentuan Asam dan Basa
1.    Kertas lakmus disobek kecil-kecil dimasukkan kedalam wadah atau tempat.
2.    Teteska NaOH dan Hcl ketempat yang berisi sobekan kertas lakmus dengan menggunakan pipet tetes.( pipet pasteour).


VII. Hasil Pengamatan
A.  Hasil pengamatan pembuatan larutan sodium hydroxida 0,1 N adalah sebagai berikut:
    Na2so4                   
    Dik : Bst             : 71
                  Na2SO4    : 0,71 gram
                  Aquades    : 100 ml
          Jawab: n =
                     =
                     =
                    = 0,1 gram








B. Hasil pengamatan pengenceran larutan sodium hydroxida adalah sebagai berikut:
Diket:
      V1 = 100
      M1 = 0,1
      M2 = 0,04
      Dit =….?
Jawab: V1.M1 = V2.M2
            100 . 0,1 = V2 . 0,04
             10 = V2 . 0,04
            V2 =  
            V2 = 250 ml
Jadi, V2-V1 = 250-100
                    = 150 ml








C.  Hasil pengamatan Titrasi
1.      Langkah pertama yaitu pentrasi=NaOh
2.      Kemudian masukan 3 tetes indikator PP
3.      Kemudian masukan 10 ml Kcl
4.      Setelah itu langkah-langkah untuk mentitrasi adalah:
-          Buka kran perlahan-lahan
-          Goyangkan erlemeyer yang berisi indikator PP 3 tetes
-          Tunggu sampai berubah warna dari bening sampai pink. 
D.  Hasil pengamatan penentuan asam basa
Penentuan asam dan basa dilakukan dengan meneteskan larutan Hcl dan NaO pada potongan kertas lamus yang disobek kecil-kecil.dan akan terjadi perubahan warna pada kertas lakmus.
       Berikut hasil pengamatan dari perubahan asam basa:
NO
Lakmus
Asam
Basa
1
Biru
Merah
Biru
2
Merah
Merah
Biru








VIII. Pembahasan
Setelah mengetahui alat dan bahan yang akan di gunakan kemudian bisa melakukan pembuatan larutan, mula- mula dengan menimbang Naoh dan gelas arloji. Lalu memindahkan sodium hydroxide ke dalam gelas beker 250 ml dengan bantuan spatula, gelas arloji yang sudah dibilas dengan aquades dilanjutkan dengan memasukan aquades ke dalam gelas beker sesuai dengan perhitungan, lalu diaduk larutan tersebut didalam gelas beker. Pengenceran Larutan sodium hydroxida, cara pembuatannya dengan mengancerkan larutan yang sudah tersedia, pembuatanya dapat menggunakan persamaan sesuai dengan yang telah di tentukan berdasarkan pengamatan di atas.
Titrasi adalah suatu cara analisis yang sering dilakukan dalam analisis kuantitatif. Titrasi di sebut juga sebagai pencampuran dua zat yang ada di dalam Erlenmeyer dengan cara mengaduk pelan- pelan kedua zat yang telah bercampur didalam Erlenmeyer ketika sudah ditetesi dengan buret, bahan yang digunakan adalah aquades. Titrasi dilakukan selama kurang lebih 5 detik, dengan mengaduk perlahan-lahan kedua zat kimia yang sudah bercampur. Proses titrasi dapat dihentikan apabila kedua zat yang telah bercampur berubah warna, adapun warna yang dihasilkan adalah warna pink, warna itu didapat dari campuran 2 zat tersebut. Begitulah proses tirasi berlangsung
Penentuan asam basa, penentuannya dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus yang di sobek kecil, ukuran kertas lakmus yang di sobek  ini kurang lebih 1 – 1,5 cm2, lalu ditetesi dengan menggunakan pipet. Setelah melakukan percobaan diatas kita bisa menentukan zat tersebut asam atau basa, jika ditetesi dengan hcl, warna kertas lakmus akan berubah menjadi warna merah disebut juga asam, sedangkan apabila ditetesi dengan Naoh kertas lakmus akan mendominasi warna biru yang disebut basa. Alat yang digunakan adalah kertas lakmus dan pipet tetes, sedangkan bahannya, Naoh dan Hcl. Naoh dan hcl adalah dua zat kimia yang sangat berbahaya dan beracun, NaOH adalah berupa zat padat berbentuk plat warna putih dan higrokois, sedangkan Hcl yang berat molekulnya 36,45 menyebabkan luka bakar dan dermatitis ( kulit melepuh ) begitu juga dengan uapnya, mempunyai sifat yang sama berbahayanya, sedangkan NaoH yang berat molekulnya 40,01 bersifat higrokopis yang mudah menyerap gas karbon dioksida ( co2 ), yang dapat merusak jaringan tubuh, begitu juga apabila terhirup akan menimbulkan gangguan saraf pada organ tubuh kita.












           




IX. Kesimpulan
Dari praktikum Pembuatan larutan, titrasi, pengenceran dan penentuan asam basa dapat kita simpulkan sebagai berikut:
1.    Praktikan dapat membedakan antara asam dan basa.
2.    Praktikan dapat menghitung gram pada pembuatan larutan.
3.    Praktikan dapat menghitung volume larutan yangakan dibuat.
4.    Praktikan dapat melakukan pengenceran larutan.
5.    Praktikan dapat mengingat kembali alat laboratorium yang digunakan.
6.    Praktikan dapat membuat larutan, titrasi,  pengenceran dan penentuan asam basa.














DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012, Petunjuk praktikum Kimia Dasar, Laboratorium Kimia;
INSTIPER.
Krisbianoro, Adi, 2008, Panduan Kimia Praktis SMA, Bandung; Pustaka

Widyatama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar