LAPORAN
RESMI
PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
Disusun
Oleh :
Nama : Tryana Aryadi
NIM : 12/15067/BP_SPKS
Kelas : SPKS H
Jurusan : Budidaya Pertanian
Fakultas : Pertanian
Kelompok : V
( Lima )
Acara
: II ( Pembuatan larutan,
titrasi, pengenceran
dan
penentuan asam basa )
Co.
Ass : Julia Handayani
INSTITUT
PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
I.
Acara : II ( Pembuatan larutan,
Titrasi, Pengenceran, dan
Penentuan asam basa )
II. Tanggal Praktikum : 23
Oktober 2012
III. Tujuan :
a. Mengetahui bagaimana cara pembuatan larutan Na2SO4.
b. Mengetahui bagaimana mengencerkan suatu larutan.
c. Mengetahui
konsentrasi suatu larutan.
d. Mengetahui cara mentitrasi suatu larutan dan menentukan asam basanya.
IV. Dasar Teori
Larutan
adalah campuran serba sama (homogen) antara 2 atau lebih zat yang komposisinya
dapat diatur dan sifat masing- masing penyusunnya masih tampak. Larutan dibuat dengan
mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. Larutan
didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi
baik sebagai molekul, Atom
maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa
gas, cairan atau padatan.
Titrasi merupakan metode analisa kimia secara
kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan
konsentrasi dari reaktan. Karena pengukuran volume memainkan peranan penting
dalam titrasi, maka teknik ini juga dikenali dengan analisa volumetrik.
Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T yang ekivalen dengan A telah
ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran telah tercapai. Agar
mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat menggunakan sebuah
zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap adanya titran
berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak dapat
trejadi tepat pada titik ekuivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah
warna disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir
ada sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat
kedua titik berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya)
merupakan salah satu aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi
menyangkut proses ntuk mengukur volum titran yang diperlukan untuk mencapai
titik ekivalen. Selama bertahun-tahun istilah analisa volumetrik sering
digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat dari segi yang ketat,
istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran volum tidak perlu
dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat mengukur
volum gas.
Proses
pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara
menambah pelarut agar diperoleh volume akhir yang besar (James E.Brady, 1999 :
102). Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang- kadang
sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam
sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat
yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air
ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar
yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat
memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit
(BradAsam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat.
Penentuan
Asam dan Basa. Indikator untuk titrasi
asam basa (analisis volumetri) memegang peranan yang sangat penting karena
indikator akan menunjukkan dimana titik
akhir dari titrasi tersebut (titik
ekuivalen). Pemilihan indikator yang tepat akan sangat membantu dalam
keberhasilan titrasi yang akan dilakukan.
V.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan
sodium hidroxida, pengencera
larutan sodium hidroxida, titrasi, dan penentuan asam basa adalah sebagai
berikut:
A. Alat
1. Gelas
Piala
- ukuran 250
ml 1 buah
- ukuran 50 ml 1 buah
2. Gelas
Arloji 1 buah
3. Kertas
Lakmus 2 lembar
4. Spatula 1 buah
5. Labu
ukur
100 ml 1 buah
6. Erlenmeyer
- ukuran 250
ml 2 buah
- ukuran 200
ml 1 buah
7. Corong 1 buah
8. Pipet ukur 50 ml 1
buah
9. Timbangan
analitis 1 buah
10. Tabung Reaksi 1
buah
11. Penjepit 1 buah
B. Bahan
1. Na2so4 secukupnya
2. Aquades 100
ml secukupnya
3. NaOH 100 ml secukupnya
4. Hcl 10 ml secukupnya
5. Indikator
secukupnya
VI.
Cara Kerja
A. Pembuatan
Sodium –Hydroxida
1. Penimbangan
NaOH, timbang gelas arloji
yang kering dan bersih catat beratnya.
2. Masukan Sodium-Hydroxida
seperlunya, catat beratnya sampai 4 angka dibelakang koma.
3. Pembuatan
larutan, pindahkan Sodium-Hydroxida kedalam gelas beker 250 ml, dengan bantuan
spatula atau gelas pengaduk.
4. Bilaslah
gelas arloji dengan aquades.
5. Masukan
kegelas beker
dan tambahkan aquades, sesuai dengan perhitungan. Gunakan alat spatula untuk
membantu alam melarutkan Sodium-Hydroxida didalam gelas beker.
B. Pengenceran
Larutan Sodium-Hydroxida
1.
Tentukan berapa
kebutuhan pelarut yang diperlukan dari perhitungan
yang ada.
2. Tambahkan
pelan-pelan aquades sesuai
dengan keperluan.
3. Jika
bisa gunakan labu ukur agar hasil lebih tepat.
C. Titrasi
1. Cucilah
buret dengan larutan pencuci.
2. Bilaslah
dengan larutan pencuci yang dipakai.
3. Isilah
buret dengan aquades sampai dengan skala nol.
4. Lakukan
latihan titrasi.
D. Penentuan
Asam dan Basa
1. Kertas
lakmus disobek kecil-kecil dimasukkan kedalam wadah atau tempat.
2.
Teteska NaOH dan Hcl
ketempat yang berisi sobekan kertas lakmus dengan menggunakan pipet tetes.(
pipet pasteour).
VII. Hasil
Pengamatan
A. Hasil
pengamatan pembuatan larutan sodium hydroxida 0,1 N adalah sebagai berikut:
Dik : Bst : 71
Na2SO4 : 0,71 gram
Aquades : 100 ml
Jawab: n
=
=
=
= 0,1 gram
B. Hasil
pengamatan pengenceran larutan sodium hydroxida adalah sebagai berikut:
Diket:
V1 = 100
M1 = 0,1
M2 = 0,04
Dit =….?
Jawab: V1.M1 = V2.M2
100
. 0,1 = V2 . 0,04
10
= V2 . 0,04
V2 =
V2 = 250 ml
Jadi, V2-V1 = 250-100
= 150 ml
C. Hasil
pengamatan Titrasi
1. Langkah pertama yaitu pentrasi=NaOh
2. Kemudian masukan 3 tetes indikator PP
3. Kemudian masukan 10 ml Kcl
4. Setelah itu langkah-langkah untuk mentitrasi adalah:
-
Buka kran
perlahan-lahan
-
Goyangkan erlemeyer
yang berisi indikator PP 3 tetes
-
Tunggu sampai
berubah warna dari bening sampai pink.
D.
Hasil pengamatan
penentuan asam basa
Penentuan asam
dan basa dilakukan dengan meneteskan larutan Hcl dan NaO pada potongan kertas
lamus yang disobek kecil-kecil.dan akan terjadi perubahan warna pada kertas
lakmus.
Berikut hasil pengamatan dari perubahan asam basa:
NO
|
Lakmus
|
Asam
|
Basa
|
1
|
Biru
|
Merah
|
Biru
|
2
|
Merah
|
Merah
|
Biru
|
VIII.
Pembahasan
Setelah
mengetahui alat dan bahan yang akan di gunakan kemudian bisa melakukan
pembuatan larutan, mula- mula dengan menimbang Naoh dan gelas arloji. Lalu memindahkan sodium
hydroxide ke dalam gelas beker 250 ml dengan bantuan spatula, gelas arloji yang
sudah dibilas dengan aquades dilanjutkan dengan memasukan aquades ke dalam
gelas beker sesuai dengan perhitungan, lalu diaduk larutan tersebut didalam gelas
beker. Pengenceran Larutan sodium hydroxida, cara pembuatannya dengan mengancerkan
larutan yang sudah tersedia, pembuatanya dapat menggunakan persamaan sesuai
dengan yang telah di tentukan berdasarkan pengamatan di atas.
Titrasi adalah
suatu cara analisis yang sering dilakukan dalam analisis kuantitatif. Titrasi
di sebut juga sebagai pencampuran dua zat yang ada di dalam Erlenmeyer dengan
cara mengaduk pelan- pelan kedua zat yang telah bercampur didalam Erlenmeyer
ketika sudah ditetesi dengan buret, bahan yang digunakan adalah aquades.
Titrasi dilakukan selama kurang lebih 5 detik, dengan mengaduk perlahan-lahan kedua zat kimia
yang sudah bercampur. Proses titrasi dapat dihentikan apabila kedua zat yang telah
bercampur berubah warna, adapun warna yang dihasilkan adalah warna pink, warna itu didapat
dari campuran 2 zat tersebut. Begitulah proses tirasi berlangsung
Penentuan asam basa, penentuannya
dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus yang di sobek kecil, ukuran kertas
lakmus yang di sobek ini kurang lebih 1
– 1,5 cm2, lalu ditetesi dengan menggunakan pipet. Setelah melakukan percobaan
diatas kita bisa menentukan zat tersebut asam atau basa, jika ditetesi dengan
hcl, warna kertas lakmus akan berubah menjadi warna merah disebut juga asam, sedangkan apabila
ditetesi dengan Naoh kertas lakmus akan mendominasi warna biru yang disebut
basa. Alat yang digunakan adalah kertas lakmus dan pipet tetes, sedangkan
bahannya, Naoh dan Hcl. Naoh dan hcl adalah dua zat kimia yang sangat berbahaya
dan beracun, NaOH adalah berupa zat padat berbentuk plat warna
putih dan higrokois, sedangkan Hcl yang berat molekulnya 36,45 menyebabkan luka
bakar dan dermatitis ( kulit melepuh ) begitu juga dengan uapnya, mempunyai
sifat yang sama berbahayanya, sedangkan NaoH yang berat molekulnya 40,01
bersifat higrokopis yang mudah menyerap gas karbon dioksida ( co2 ), yang dapat
merusak jaringan tubuh, begitu juga apabila terhirup akan menimbulkan gangguan
saraf pada organ tubuh kita.
IX. Kesimpulan
Dari praktikum
Pembuatan larutan, titrasi, pengenceran dan penentuan asam basa dapat kita
simpulkan sebagai berikut:
1.
Praktikan dapat
membedakan antara asam dan basa.
2.
Praktikan dapat
menghitung gram pada pembuatan larutan.
3.
Praktikan dapat
menghitung volume larutan yangakan dibuat.
4.
Praktikan dapat
melakukan pengenceran larutan.
5.
Praktikan dapat
mengingat kembali alat laboratorium yang digunakan.
6.
Praktikan dapat membuat
larutan, titrasi, pengenceran dan
penentuan asam basa.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012,
Petunjuk praktikum Kimia Dasar, Laboratorium Kimia;
INSTIPER.
Krisbianoro, Adi, 2008, Panduan Kimia Praktis SMA, Bandung;
Pustaka
Widyatama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar